BERITA

Industri Butuh Integrasi Ekosistem Industri dan Manufaktur Nilai Tambah
Administrator | Selasa, 19 Desember 2017, 09:39
...
Pemerintah mencanangkan kebijakan industri nasional sebagai negara industri maju baru

JAKARTA- Pemerintah telah mencanangkan kebijakan industri nasional sebagai negara industri maju baru dan menargetkan sektor industri dalam negeri mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang dapat meningkatkan laju perekonomian, salah satunya dengan pertumbuhan industri energi hilir (gas) yang suistainable dalam mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing industri manufaktur nasional.

Dalam rangka mendiskusikan  tantangan dan peluang atas kebijakan industri energi hilir (gas) sebagai salah satu pendukung utama industri (manufaktur) nasional inilah yang mendasari Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri Indonesia (ISTMI) sebagai wadah bernaungnya profesionalisme di bidang teknik dan manajemen industribersama salah satu perusahaan industri energi hilir terbesar di Indonesia yaitu PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk menggelar diskusi inspiratif bertajuk ‘Integrated Ecosystem Industries Demand Creation, Sustainability & Integrated Planning’ yang berlangsung di The Media Hotel, Jakarta, Rabu (13/12).

Ketua Umum ISTMI, Ir Faizal Safa MSc IPM AER merasa gembira dapat bekerja sama dengan berbagai pihak untuk penyelenggaraan ajang diskusi bertajuk ‘Integrated Ecosystem Industries Demand Creation, Sustainability & Integrated Planning’ ini, termasuk beberapa Kementerian dan BUMN terkait khususnya PGN.

“Sebagai lembaga nirlaba kami ingin memberikan sumbangsih bagi Bangsa tercinta, untuk itulah kami gelar ajang diskusi ini sebagai salah satu wujud komitmen dan kontribusi kami untuk mengedukasi para pelaku bisnis dan memberi masukan kepada pemerintah dalam membuat kebijakan yang sesuai untuk sektor Industri,” katanya.

Diskusi bisnis ini sendiri, lanjut dia,  ditujukan untuk mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing industri Tanah Air serta mengenali kondisi, tantangan dan peluang yang ada dan bagaimana menyikapinya.

Industri juga perlu dilihat secara menyeluruh, baik dari sisi industri premier – sekunder maupun tersier. Dan hal ini tentunya dapat dilakukan dengan peran pemerintah untuk membantu meningkatkan industri Tanah Air. Seperti diketahui bahwa sektor industri telah menjadi motor utama penggerak perekonomian nasional dengan kontribusi PDB Nasional sebesar 17,98%. Antara lain melalui 3 industri utama yaitu industri makanan dan minuman dengan rata-rata kontribusi 5,32% per tahun; industri alat angkut rata-rata kontribusi 1,96% per tahun serta industri barang logam, compute, elektronik, optik dan peralatan listrik rata-rata kontribusi 1,90% per tahun.

“Ketiga cabang industri tersebut menjadi motor penggerak utama sektor industri nasional. Besarnya peran tersebut menandakan terjadinya penguatan struktur industri ke arah produksi bernilai tambah tinggi dan penggunaan teknologi produksi yang lebih tinggi”, papar Faisal Safa.

Bekerjasama dengan PGN untuk forum diskusi ini dinilai tepat dan memberikan sinergi positif karena PGN merupakan salah satu perusahaan nasional Indonesia terbesar di bidang transportasi dan distribusi gas bumi yang berperan besar dalam pemenuhan gas bumi domestik yang secara berkesinambungan mengintegrasikan rantai bisnis gas bumi dari hulu sampai hilir dalam melayani masyarakat yang bertujuan dalam memberikan keahliannya, energi dan infrastruktur yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara jangka panjang.

PGN pun senantiasa bertransformasi sebagai perusahaan yang berdedikasi dalam memberikan keahlian, energi dan infrastruktur yang diperlukan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara jangka panjang.

Dengan mengusung tema relevan saat ini yang didasari apabila pertumbuhan industri energi hilir sustainable maka secara tidak langsung turut mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing industri manufaktur nasiona.

Selain itu melihat kondisi dan tantangan yang dihadapi oleh pelaku industri saat ini yang disertai dengan indikator kinerja berbagai industri yang ada di Indonesia maka ajang diskusi ini bertujuan dalam memicu semangat membangun industri di Indonesia dengan melibatkan berbagai pelaku pengusaha nasional yang nantinya diharapkan mampu memberikan tambahan dorongan kemandirian industri, manufaktur dan energi hilir serta mencari kesepakatan kebijakan industi energi hilir (gas) yang terbaik untuk kemajuan perekonomian di Indonesia.

Head Of Marketing PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk  Adi Munandir mengatakan, PGN menyadari menjadi Support System dari industri, yang cuma hanya menjadi besar apabila industrinya besar. “Jadi kami memperhatikan hal ini, bahwa yang kami lakukan tidak lagi seperti jaman dahulu beli gas - jual gas. Namun yang harus kami lakukan adalah mencoba memahami industri dalam hal struktur dan tantangannya di dalam industri seperti apa. Sehingga kita bisa mensupport menjadi lebih besar. Kami memenuhi kebutuhan industri yang memerlukan energi yang kompetitif,” ujarnya.

“Untuk membangun integrasi ekosistem industri maka diperlukan gerakan nasional dimana kita harus  bersama-sama, bersinergi dalam kerangka membangun daya saing industri dari berbagai sektor. Harus ada Integrated Planing, Bangun infrastruktur dengan memprioritaskan wilayah kawasan industri, membangun gas masterplan, menciptakan industri gas hilir terjankau ke daerah. PGN meyakini energi bukan komoditas namun membangun paradigma ekonomi baik dan pertumbuhan indsutri yang baik dengan menciptakan  manufaktur nilai tambah sehinnga melahirkan ekosistem yang supportif.” tambah Adi.

 

Dalam diskusi  ini juga menyebut ada lima hal yang menjadi tuntunan bersama dalam mewujudkan  integrasi ekosistem industri dan manufaktur nilai tambah, yaitu: Pertama, Kejelasan dan ketegarasan keberpihakan pemerintah menjadi modal pembangunan berkelanjutan. Kedua, Kepastian hukum. Ketiga, Prodiktivitas SDM yang tinggi.Keempat,  Energi kompetitif menjadi modal pembangunan yg berkelanjutan. Dan, kelima, Sinkroniasasi antar sektor mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan.

 

Indonesia Gas Association, Antonius Aris Sudjatmiko menyatakan hal senada dengan lima hal tuntunan bersama tersebut,  bahwa dalam upaya  sinkroniasasi antar sektor mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan dalam hal ini upaya menghasilkan energi yang kompetitif untuk industri maka diperlukan strategi berbagi peran  dan bekerjasama  untuk  mewujudkan  integrasi ekosistem industri dan manufaktur nilai tambah.

 

Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Jobi Triananda Hasjim merasa optimistis ajang ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh peserta untuk sharing knowledge. “Kami sangat mendukung terselenggaranya ajang-ajang diskusi inspiratif seperti yang digagas oleh ISTMI ini yang memiliki tujuan yang sama dalam memberikan keahlian, energi dan infrakturtur yang sangat diperlukan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Kami secara berkesinambungan senantiasa berusaha untuk terus memperkuat distribusi gas bumi dan menjadi penyedia solusi energi terintegrasi yang mendorong pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan masyarakat dan industri. Melalui ajang diskusi dengan topik yang sesuai dengan industri kami ini, tentunya akan semakin menambah wawasan kami dari kacamata yang lebih luas sehingga kami tetap dapat memberikan yang terbaik bagi negeri”. (ral) 

http://id.beritasatu.com/home/industri-butuh-integrasi-ekosistem-industri-dan-manufaktur-nilai-tambah/169408

Event


Sponsor